MALAM NIFSU SYAHBAN, MALAM YANG MENGINGATKAN KITA UNTUK BERBUAT TAK DOSA.

Jakarta, postangsel.com.

Malam Nisfu Sya’ban Saudaraku yang dirahmati Allah, Malam ini suasana akan hening dan meminta apunan pada yang maha kuasa, jakarta, senin (02/02).

Tak satupun yanh tahu dan tidak ramai, tidak gegap gempita, seolah-olah mengenang dosa-dosa yang di perbuat masa lalu.

Namun justru di keheningan inilah Allah paling dekat dengan hamba-Nya, agar meminta ampunan kepada sang penciptanya.

Malam ini adalah malam Nisfu Sya’ban, malam ketika langit dibuka, malam ketika doa-doa naik,
dan malam ketika Allah memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih sayang.

“Semoga Saudaraku-saudaraku dan kita semua di hapuskan dosa-dosa yang kecil dan besar, bahwa kita kangen datangnya bulan pengampunan”, katanya Dr.c.Henry.SE,.M.Si, Aktivis.

Kata beliau, bahwa kita Sering kali kita terlihat baik di hadapan manusia, tapi diam-diam kita tahu
hati ini lelah, ibadah sering lalai, dosa terasa semakin banyak.

“Ada shalat yang terburu-buru, ada doa yang jarang terucap, ada air mata yang seharusnya jatuh, tapi kita tahan, semoga Allah SWT yang pengasih dan penyayang”, tuturnya.

Seperti Hadis Nabi Muhammad,.SAW, dan sesunggunya malam ini Allah seakan bertanya dengan lembut:

“Wahai hamba-Ku, masihkah engkau berharap kepada-Ku, niscahaya Muhammad, SAW itu Utusanku?”

Malam Nisfu Sya’ban adalah malam harapan.

Allah membuka pintu ampunan-Nya bukan untuk orang yang sempurna, tetapi untuk orang yang jujur mengakui kelemahannya.

Jika malam ini dada terasa sesak, jika hati terasa jauh, jika hidup terasa berat, maka katakan saja pada Allah…

“Ya Allah, aku tidak punya apa-apa selain dosa dan harapan kepada-Mu.”

Saudaraku yang dimuliakan Allah, namun ada satu hal yang sering menghalangi turunnya rahmat Allah:

Hati yang kotor oleh dendam dan kebencian, mungkin ada luka dari sesama, mungkin ada kecewa yang belum sembuh, mungkin ada nama yang masih berat untuk dimaafkan.

Malam ini bukan tentang membenarkan orang lain, tetapi tentang membebaskan hati kita sendiri.

Karena hati yang memaafkan adalah hati yang paling ringan menghadap Allah.

“Saudaraku, Bulan Sya’ban sebentar lagi pergi, Ramadan sudah di depan mata.

Jangan biarkan kita masuk Ramadan dengan hati yang belum bersih dan jiwa yang belum siap”, ucapnya.

Menurut dia, Malam ini, mari kita pulang kepada Allah, bukan dengan merasa layak, tapi dengan merasa sangat membutuhkan-Nya.

Perbanyak istighfar, panjatkan doa dengan pelan, dan jika tak mampu berkata-kata…
biarkan air mata yang berbicara.

Insya Allah menerima taubat kita, mengganti dosa dengan ampunan, mengganti luka dengan ketenangan, dan mempertemukan kita dengan Ramadan dalam keadaan hati yang hidup, Wallahu a’lam bish-shawab.

(izani)